Showing posts with label MIM. Show all posts
Showing posts with label MIM. Show all posts

PANJI GUMILANG DAN IMPLEMENTASI DERADIKALISASI Oleh: Ir. Muh. Hatta Tahir

|| || , || Leave a comments
 Ma'had Al-Zaitun
Pusat Pendidikan Dan Pengembangan Budaya Toleransi Serta Pengembangan Budaya Perdamaian

Tahun-tahun awal saya ngampus di Bogor, adalah awal persinggungan saya dengan berbagai aktivis organisasi kampus dengan berbagai ideologi-ideologinya, yang bisa dibagi dalam dua mainstream gerakan kampus : bersifat politis dan gerakan Islam.  Politis disini juga dapat dibagi  lagi menjadi politis berdomain kampus dan politis nasional. Politis kampus yang saya maksudkan karena saat itu terjadi persaingan antara fakultas kehutanan, berseteru dengan fakultas perikanan dan peternakan, memperebutkan dominasi atas sebuah asrama kampus, yang seringkali berujung pada tawuran massal. Dan saya pun terlibat dalam tawuran itu. Dengan jiwa muda - ditambah fanatisme kefakultasan, kami menyerang fakultas kehutanan. Ini semua terjadi, juga akibat provokasi dari para mahasiswa senior, saat itu.
Sementara itu di luar kampus, politik nasional juga sedang hangat-hangatnya  karena saat itu sedang ramai-ramainya demonstrasi  untuk menggulingkan Presiden Suharto.  Bersama dengan teman-teman IPB lainnya saya bergerak  menyerbu Senayan dengan kekuatan  empat armada bis kampus bergabung dengan mahasiswa dari kampus lain, hanya untuk satu kata “lengserkan Suharto dan kroni-kroninya”.

 Demonstrasi

Untuk gerakan Islam kampus  sebenarnya terbagi atas gerakan Islam moderat model kerohisan- kerohaniawan Islam dan gerakan Islam kampus yang bersifat radikalfundamentalis transnasional produk import dari Timur tengah, seperti HTI (Hizbut Tahrir Indonesia), IM (Ikhwanul Muslimin ) serta  ormas-ormas Islam lainnya. Khusus untuk gerakan Islam kampus terakhir, semuanya bergerilya underground , berebut pengaruh di kalangan mahasiswa. Utamanya pada mahasiswa baru yang masih hijau atau minim akan pengalaman dan pemahaman keislaman, istilahnya saat itu : mahasiswa antena pendek.

Mereka sedang mencari identitas diri dan jati diri. Awal persinggungan itu biasanya saat-saat ospek , masa orientasi mahasiswa baru dilaksanakan.  Dengan modal senioritas  beberapa aktifis mahasiswa lama mencoba approach untuk memasukkan nilai-nilai ideologi gerakananya pada mahasiswa baru tersebut dengan tujuan agar mereka bisa bergabung.  Hal ini biasanya dilakukan oleh aktivis HTI dan IM.

 Hizbut Tahrir

Hizbut Tahrir dengan agenda khilafahnya yang bertujuan membentuk kekhalifahan Islam di dunia berusaha melebarkan sayap pengaruhnya di tengah-tengah mahasiswa dengan berbagai macam kegiatan-kegiatan keislaman seperti kajian-kajian dari satu kamar  kos ke kamar kos lainnya, dari masjid ke masjid lainnya.

Begitu pun dengan IM (Ikhwanul Muslimun)  organisasi yang konon underbow PKS itu, dengan model tarbiyah dan halaqoh liqanya juga berusaha menggaet anggota baru dengan kegiatan seperti pameran atau bazaar buku-buku islam dan juga seminar-seminar. Salah satu seminar yang pernah diadakan adalah dengan mengundang tokoh yang cukup vocal pada zamannya, Abdul Qodir Jaelani, seorang mantan anggota DPR  dari Partai Bulan Bintang, dan tokoh-tokoh lainnya seperti Ahmad Sumargono, juga Al Chaidar dengan buku terkenalnya saat itu Reformasi Premature , dan banyak lagi.

 Ihkwanul Muslimin

Saat itu saya memang berada di pusaran aktifitas kampus seperti itu dengan segala dinamikanya dan berbagai ideologinya . Sampai suatu ketika saya ketemu dengan salah seorang senior saya di sebuah laboratorium peternakan dengan membawa sebuah majalah pendidikan berjudul majalah Al - Zaytun dan memperlihatkan kepada saya sambil menjelaskan visi dan misi tentang Ma’had Al Zaytun sebagai Pusat Pendidikan dan Pengembangan Budaya Toleransi dan Perdamaian, sembari mengajak untuk berdiskusi lebih jauh tentang masalah-masalah keislaman. Goals yang ingin dicapai adalah masyarakat madani, masyarakat Islam berperadaban, memanifestasikan Islam dengan peradaban Islam dan toleransi yang tinggi di dalamnya, diikat oleh piagam ikatan kebangsaan , mengatur masyarakatnya  yang berasal dari berbagai suku, berbagai agama, bersatu dibawah ikatan nasional Indonesia.
Ini menarik hati saya, mengetahui adanya  sebuah komunitas nun jauh di pedalaman Indramayu yang berusaha membangun sebuah peradaban lewat pendidikan Islam yang mumpuni dengan visi misi Rahmatan lil Alamin dan sebagai Pusat Pendidikan dan Pengembangan Budaya Toleransi dan Perdamaian. Dari diskusi yang intens dengan kawan tadi itulah saya mulai  tertarik untuk mengenal lebih jauh tentang Ma’had Al Zaytun dan sosok Panji Gumilang.  Mulai dengan berlangganan majalah Al Zaytun lalu sesekali berkunjung ke sana, saya merasa ada chemistry dan kesefahaman antara proses pencarian saya pada Islam yang sejuk dengan ide-ide universal Panji Gumilang.

Mahad Al-zaitun

Islam yang berwajah ramah dan jauh dari kesan beringas seperti yang sering saya dengarkan dari ceramah dan kajian-kajian kampus lainnya. Hampir semua kajian-kajian Islam di kampus pernah saya ikuti sehingga saya bisa membandingkan antara satu dengan yang lain tentang cara rekrutment, cara penyampaian dakwahnya sampai pada goals yang ingin dicapai oleh mereka.  Hisbut Tahrir dan IM menjadikan masjid kampus sebagai center of activity  - basis gerakan dengan blok-blok halaqoh tempat kajian diantara  ruang masjid yang ada di lantai satu dan dua, disanalah saya berkenalan dengan para aktivis HT dan IM. Apalagi ada banyak aktivis yang berasal satu daerah dengan saya sehingga mudah akrab. 

Pernah suatu saat seorang mentor  megajak untuk diskusi dan pengajian dalam sebuah kelompok yang saat itu hanya berjumlah 2 orang, dan teman yang satu lagi kebetulan juga adalah teman satu jurusan di fakultas yang sama. Pada awalnya berjalan seperti biasa dengan materi yang juga biasa dan umum sampai pada suatu moment kajian yang saya anggap sudah menjurus ke arah tertutup dan eksklusif.  Karena setiap akhir kajian sang guru biasanya menutup dengan kalimat “ untuk saat ini jangan diekspos dulu cukup kita bertiga saja yang tahu”.  

Akhirnya saya lebih banyak berdiskusi dengan senior yang pernah memberikan majalah Al Zaytun itu. Kami satu fakultas namun berbeda jurusan.  Satu saran yang  berkesan saat diskusi itu adalah ajakan tidak merokok karena merokok adalah aktifitas yang lebih banyak mudhorotnya daripada maslahatnya.  Ternyata itu juga dicontohkan oleh  para pengurus Al Zaytun, dan para santrinya.  Haram merokok adalah sebuah upaya melawan arus, saat dimana masyarakat banyak masih gamang untuk memfatwa masalah merokok, antara haram , halal atau mubahkah?, Al Zaytun waktu itu dengan tegas menyatakan kawasan bebas rokok. Bukankah ini ibarat menempeleng kyai dan ulama yang masih pada doyan merokok ?

 Merokok Adalah Jembatan Emas Menuju Narkoba


Ketegasan ini sangat menarik bagi saya, sebuah contoh komitmen Panji Gumilang dan para eksponen dan santri pada sebuah nilai kebaikan. Seperti nilai-nilai kedisiplinan diri, kesehatan dan kemanusiaan dan itulah inti ajaran ketuhanan.  Kedisiplinan diri karena dengan larangan merokok, jelas adalah sebuah shoum/aktifitas menahan diri yang luar biasa bagi mereka yang sudah terlanjur kecanduan rokok, nilai kesehatan itu sudah pasti dan nilai Ketuhanan  sesuai ayat Qur’an yang berbunyi “Dan (Rosul) itu menghalalkan yang baik-baik dan mengharamkan segala yang buruk …”. (QS. Al-A’rof : 157). Dan janganlah kalian menghamburkan hartamu dengan boros, karena pemboros itu adalah saudaranya setan…” (AS. Al-Isro’: 26-27.
Bukankah merokok bukan hanya merusak diri sendiri namun juga merusak orang disekitar perokok dengan asap rokoknya, dengan demikian perokok sebenarnya sudah melanggar nilai kemanusiaan dengan egoismenya  menyerobot hak orang lain untuk hidup sehat? Ada banyak nilai-nilai kebaikan lainnya yang diajarkan oleh Syaykh Panji Gumilang.  Contoh lain komitmen Panji Gumilang pada nilai-nilai efesiensi dan kejujuran adalah dengan tidak membiarkan satupun  paku tercecer, kata para pekerja bangunan di Ma’had Al Zaytun.

 Syekh AS Panji Gumilang

Kesan-kesan yang saya ceritakan diatas adalah sekelumit interaksi, dialog virtual dengan seorang Panji Gumilang, ini saja sudah bisa menunjukkan bagaimana sebenarnya sosok Syaykh Al-Zaytun tersebut.  Sebuah kesan yang sangat jauh dari kesan figur radikal dengan konotasi negatif yang akhir akhir ini sangat gencar distempelkan. Tapi beliau justru sangat humanis, toleran dan pluralis serta nasionalis, sangat  bertolak belakang dengan berita yang berusaha ditampilkan dan diangkat oleh media nasional baru-baru ini.  Ibarat bumi dengan  langit,  jauh panggang dari api.  Namun mungkin itulah realitas pers - media yang masih terkungkung dengan prinsipjurnalisme perang, bukan jurnalisme damai.

Pers-lah juga  yang seringkali melabrak nilai-nilainya sendiri, etikanya sendiri seperti cover both side dengan berusaha menggiring opini masyarakat untuk kepentingan para pemilik modal semata, tanpa mengadakan check balance berita sebelum diangkat ke permukaan.  Media massa seringkali hanya menggantungkan  sumber berita pada nara sumber yang kontra pada Al Zaytun dan sangat jarang sekali mengambil nara sumber yang pro atau paling tidak netral.  Sehingga pada akhirnya tujuan pembunuhan karakter pada seorang tokoh atau sebuah lembaga pendidikan benar-diharapkan terjadi secara sistematis - by design,  untuk tujuan politis atau mungkin juga kepentingan rating ekonomis dan politik pragmatis semata.



Akhirnya saya bisa katakan bahwa Syaykh Panji Gumilang,  seorang pelopor pendidikan terpadu itu,  sebenarnya adalah seorang yang sangat berjasa dalam proses dan implementasi deradikalisasi di Indonesia. Kapolri atau Kabareksrim dan juga semua pemimpin Indonesia mestilah  menyadari hal ini. Kesimpulan ini adalah hasil interaksi bertahun-tahun dengan beliau. Sesuatu yang tidak terbayang mungkin akan terjadi seandainya saya ikut terbawa, bergabung dengan  gerakan-gerakan lainnya. Bisa jadi saya akan menjadi suicide bomber atau teroris, tidak akan seperti sekarang. melakukan hal-hal positif dalam semangat pluralisme, toleransi dan perdamaian, menghargai pemeluk agama lain dan sangat cinta tanah air tentunya. Semua karena didikan Panji Gumilang !  God Bless You, Syakyh !.

Pencipta dan Asal Usul Garuda Pancasila

|| || , || Leave a comments





 Asal-usul Lambang Negara Garuda Pancasila

Lambang Negara Republik Indonesia adalah,Burung Garuda. Mengapa Negara kita menggunakan lambang Negara seperti itu? Sejak kapan kita menggunakan lambing Negara tersebut? Apa saja arti dari Lambang Negara RI itu?
Burung Garuda hamper mirip dengan burung elang Rajawali. Burung ini terdapat dalam lukisan di candi-candi Dieng yang dilukiskan sebagai manusia berparuh dan bersayap, lalu di candi Prambanan, dan Panataran berbentuk menyerupai raksasa, berparuh, bercakar dan berrambut panjang.
Beberapa kerajaan di pulau jawa menggunakan Garuda sebagai materai/stempel kerajaan, seperti yang disimpan di Museum Nasional, adalah stempel milik kerajaan Erlangga.

Burung Garuda ditetapkan sebagai lambing Negara RI sejak diresmikan penggunaannya pada 11 Februari 1950, dan dituangkan dalam Perautan Pemerintah no 66 tahun 1951. Penggagasnya adalah Sultan Abdurrahman Hamid Alkadrie II atau dikenal dengan Sultan Hamid II, yang saat itu sebagai Mentri Negara Republik Indonesia Serikat (RIS).

Garuda itu adalah seekor burung yang hidup dalam dunia khayalan, terutama dalam perwayangan. Garuda dianggap mulia karena memiliki kekuatan dan kecantikan parasnya. Sehingga banyak yang menggunakannya dalam berbagai kegiatan yang dianggapnya menunjukkan sebuah power dan tentunya kebebasan karena garuda bebas bisa terbang ke mana saja.
Cerita Garuda bisa jadi lambang negara adalah benar kalau itu ada pengaruh Sultan Hamid II yang cenderung, dulunya memihak belanda (ingat dia ketua BFO=perserikatan negara2 non-RI setelah agresi militer belanda 1). Namun setelah dia diangkat menjadi salahsatu pejabat negara, sebagai wakil yang memiliki pengaruh di Indonesia bagian Timur, beliau ikut sebuah sayembara yang dikeluarkan Presiden Soekarno untuk menemukan sosok lambang negara. pada waktu itu Repubik Indonesia 5 tahun tanpa lambang negara !

Pencipta Lambang Negara Burung Garuda Pancasila




Sepanjang orang Indonesia, siapa tak kenal burung garuda berkalung perisai yang merangkum lima sila (Pancasila)? Tapi orang Indonesia mana sajakah yang tahu, siapa pembuat lambang negara itu dulu?



Dia adalah Sultan Hamid II, yang terlahir dengan nama Syarif Abdul Hamid Alkadrie, putra sulung sultan Pontianak; Sultan Syarif Muhammad Alkadrie. Lahir di Pontianak tanggal 12 Juli 1913. Dalam tubuhnya mengalir darah Indonesia, Arab–walau pernah diurus ibu asuh berkebangsaan Inggris. Istri beliau seorang perempuan Belanda yang kemudian melahirkan dua anak–keduanya sekarang di Negeri Belanda.
Syarif menempuh pendidikan ELS di Sukabumi, Pontianak, Yogyakarta, dan Bandung. HBS di Bandung satu tahun, THS Bandung tidak tamat, kemudian KMA di Breda, Negeri Belanda hingga tamat dan meraih pangkat letnan pada kesatuan tentara Hindia Belanda.
Ketika Jepang mengalahkan Belanda dan sekutunya, pada 10 Maret 1942, ia tertawan dan dibebaskan ketika Jepang menyerah kepada Sekutu dan mendapat kenaikan pangkat menjadi kolonel. Ketika ayahnya mangkat akibat agresi Jepang, pada 29 Oktober 1945 dia diangkat menjadi sultan Pontianak menggantikan ayahnya dengan gelar Sultan Hamid II.
Dalam perjuangan federalisme, Sultan Hamid II memperoleh jabatan penting sebagai wakil daerah istimewa Kalbar dan selalu turut dalam perundingan-perundingan Malino, Denpasar, BFO, BFC, IJC dan KMB di Indonesia dan Belanda.
Sultan Hamid II kemudian memperoleh jabatan Ajudant in Buitenfgewone Dienst bij HN Koningin der Nederlanden, yakni sebuah pangkat tertinggi sebagai asisten ratu Kerajaan Belanda dan orang Indonesia pertama yang memperoleh pangkat tertinggi dalam kemiliteran.
Pada 21-22 Desember 1949, beberapa hari setelah diangkat menjadi Menteri Negara Zonder Porto Folio, Westerling yang telah melakukan makar di Tanah Air menawarkan “over commando” kepadanya, namun dia menolak tegas. Karena tahu Westerling adalah gembong APRA.
Selanjutnya dia berangkat ke Negeri Belanda, dan pada 2 Januari 1950, sepulangnya dari Negeri Kincir itu dia merasa kecewa atas pengiriman pasukan TNI ke Kalbar–karena tidak mengikutsertakan anak buahnya dari KNIL.
Pada saat yang hampir bersamaan, terjadi peristiwa yang menggegerkan; Westerling menyerbu Bandung pada 23 Januari 1950. Sultan Hamid II tidak setuju dengan tindakan anak buahnya itu, Westerling sempat marah.
Sewaktu Republik Indonesia Serikat dibentuk, dia diangkat menjadi Menteri Negara Zonder Porto Folio dan selama jabatan menteri negara itu ditugaskan Presiden Soekarno merencanakan, merancang dan merumuskan gambar lambang negara.
Dari transkrip rekaman dialog Sultan Hamid II dengan Masagung (1974) sewaktu penyerahan file dokumen proses perancangan lambang negara, disebutkan “ide perisai Pancasila” muncul saat Sultan Hamid II sedang merancang lambang negara. Dia teringat ucapan Presiden Soekarno, bahwa hendaknya lambang negara mencerminkan pandangan hidup bangsa, dasar negara Indonesia, di mana sila-sila dari dasar negara, yaitu Pancasila divisualisasikan dalam lambang negara.
Tanggal 10 Januari 1950 dibentuk Panitia Teknis dengan nama Panitia Lencana Negara di bawah koordinator Menteri Negara Zonder Porto Folio Sultan Hamid II dengan susunan panitia teknis M Yamin sebagai ketua, Ki Hajar Dewantoro, MA Pellaupessy, Moh Natsir, dan RM Ng Purbatjaraka sebagai anggota. Panitia ini bertugas menyeleksi usulan rancangan lambang negara untuk dipilih dan diajukan kepada pemerintah.
Merujuk keterangan Bung Hatta dalam buku “Bung Hatta Menjawab” untuk melaksanakan Keputusan Sidang Kabinet tersebut Menteri Priyono melaksanakan sayembara. Terpilih dua rancangan lambang negara terbaik, yaitu karya Sultan Hamid II dan karya M Yamin. Pada proses selanjutnya yang diterima pemerintah dan DPR adalah rancangan Sultan Hamid II. Karya M Yamin ditolak karena menyertakan sinar-sinar matahari dan menampakkan pengaruh Jepang.
Setelah rancangan terpilih, dialog intensif antara perancang (Sultan Hamid II), Presiden RIS Soekarno dan Perdana Menteri Mohammad Hatta, terus dilakukan untuk keperluan penyempurnaan rancangan itu. Terjadi kesepakatan mereka bertiga, mengganti pita yang dicengkeram garuda yang semula adalah pita merah putih menjadi pita putih dengan menambahkan semboyan “Bhineka Tunggal Ika”.
Tanggal 8 Februari 1950, rancangan final lambang negara yang dibuat Menteri Negara RIS, Sultan Hamid II diajukan kepada Presiden Soekarno. Rancangan final lambang negara tersebut mendapat masukan dari Partai Masyumi untuk dipertimbangkan, karena adanya keberatan terhadap gambar burung garuda dengan tangan dan bahu manusia yang memegang perisai dan dianggap bersifat mitologis.
Sultan Hamid II kembali mengajukan rancangan gambar lambang negara yang telah disempurnakan berdasarkan aspirasi yang berkembang, sehingga tercipta bentuk Rajawali
Garuda Pancasila. Disingkat Garuda Pancasila. Presiden Soekarno kemudian menyerahkan rancangan tersebut kepada Kabinet RIS melalui Moh Hatta sebagai perdana menteri.
AG Pringgodigdo dalam bukunya “Sekitar Pancasila” terbitan Dep Hankam, Pusat Sejarah ABRI menyebutkan, rancangan lambang negara karya Sultan Hamid II akhirnya diresmikan pemakaiannya dalam Sidang Kabinet RIS. Ketika itu gambar bentuk kepala Rajawali Garuda Pancasila masih “gundul” dan “tidak berjambul” seperti bentuk sekarang ini.
Inilah karya kebangsaan anak-anak negeri yang diramu dari berbagai aspirasi dan kemudian dirancang oleh seorang anak bangsa, Sultan Hamid II Menteri Negara RIS. Presiden Soekarno kemudian memperkenalkan untuk pertama kalinya lambang negara itu kepada khalayak umum di Hotel Des Indes Jakarta pada 15 Februari 1950.
Penyempurnaan kembali lambang negara itu terus diupayakan. Kepala Burung Rajawali Garuda Pancasila yang “gundul” menjadi “berjambul” dilakukan. Bentuk cakar kaki yang mencengkram pita dari semula menghadap ke belakang menjadi menghadap ke depan juga diperbaiki, atas masukan Presiden Soekarno.
Tanggal 20 Maret 1940, bentuk final gambar lambang negara yang telah diperbaiki mendapat disposisi Presiden Soekarno, yang kemudian memerintahkan pelukis istana, Dullah, untuk melukis kembali rancangan tersebut sesuai bentuk final rancangan Menteri Negara RIS Sultan Hamid II yang dipergunakan secara resmi sampai saat ini.
Untuk terakhir kalinya, Sultan Hamid II menyelesaikan penyempurnaan bentuk final gambar lambang negara, yaitu dengan menambah skala ukuran dan tata warna gambar lambang negara di mana lukisan otentiknya diserahkan kepada H Masagung, Yayasan Idayu Jakarta pada 18 Juli 1974. Sedangkan Lambang Negara yang ada disposisi Presiden Soekarno dan foto gambar lambang negara yang diserahkan ke Presiden Soekarno pada awal Februari 1950 masih tetap disimpan oleh Kraton Kadriyah Pontianak.
Sultan Hamid II wafat pada 30 Maret 1978 di Jakarta dan dimakamkan di pemakaman Keluarga Kesultanan Pontianak di Batulayang

SUMBER  :  suciptoardi.wordpress.com

I'tibar Politik Propaganda Media :Ketokohan AS Panji Gumilang dan Kekuatann Civitas Al-Zaytun Indramayu. Oleh: Imam Prawoto MBA.

|| || , || Leave a comments

Alkisah, tersebutlah seorang manusia yang sedang berbuat dan 'berbicara' dengan sebuah karya besarnya.  Untuk masa depan anak bangsa di republik ini.

Sungguh taklah sulit untuk berjujur kata,  bahwa tokoh ini memiliki kecerdasan, talenta dan karakter pertahanan yang sangat kuat, penuh tanggung jawab, memiliki segudang gagasan, ide dan pandangan pandangan kebangsaan dan kenegaraan. Memiliki magnet-futurist thinking.

Sungguh sangat terang benderang pula , tokoh ini memiliki kekuatan nasionalisme tiada tara, memiliki kemampuan leadership yang mumpuni, bahkan konon memiliki kekuatan sihrun-mubinan yang mujarab. Ia juga memiliki kekuatan lobby lokal, nasional dan bahkan internasional yang piawai.

Tapi dunia pemberitaan  di ranah media republik ini agaknya memang sudah semacam  serba terbalik. Seorang berbicara apa, dan melakukan apa, tapi diberitakan melakukan sesuatu yang tidak dilakukannya. Bahkan digembar-gemborkan  berbuat  tentang sesuatu yang justru merusak masa depan anak bangsa. Terus terang, ini membuat penulis gemes, gregetan bahkan geram. Mengapa hal ini sampai mereka lakukan?.

Apakah mungkin karena mereka merasa cemburu atau tersaingi oleh  peran dan kiprahnya, yang konsisten dan kaffah berkarya  memajukan anak bangsa di republik ini ? Kenapa mereka menjadikannya seperti musuh ? Entah kenapa, karya agungnya tak jarang dimaknai dengan sesuatu yang berkonotasi negatif, bahkan distempeli makar. Selalu diusahakan untuk dibedaki dengan aroma pembusuk.



Ketika media lokal dan nasional seperti dikomando melakukan serangan bombastis memfitnahnya, pengayom dan pengasuh anak bangsa itu beserta seluruh civitas akademika lembaga pendidikannya, sedang asyik-masyuk , bertungkus-lumus siang malam dengan se-abrek kegiatan rutin pelaksanaan pendidikan dan pembelajaran di dalam kampusnya.

Bahkan anak didiknya, pelajar dari tingkat sekolah dasar hingga menengah tas-pun sedang melakukan persiapan demi persiapan menjelang pelaksanaan Ujian Akhir Nasional (UAN). Alhamdulillah, Puji Tuhan YME, ditengah badai fitnah yang sungguh biadab, semua kegiatan itu, dari awal hingga akhir, berjalan sukses, tertib, sesuai jadwal . Penuh khidmat dan damai.


                                                                                *   *   *



Berawal dari tayangan soal isu NII  di Metro TV. Kemudian secara berkelanjutan dan kelihatan sangat 'terarah', dengan besar besaran TV-One juga menayangkan dan memberitakan tentang 'orang hilang', kejadian teror dan bom - dan juga kisah 'pencucian otak', yang kemudian sumber dan pelakunya disinyalir adalah mereka yang bergerak dalam wadah organisasi  NII.

Pemberitaan demi pemberitaan kemudian merebak dan semakin gencar, bukan saja oleh media elektronik, tetapi juga dari kalangan pers cetak dan pers maya. Perburuan berita kepada tokoh yang kesehariannya tekun melakukan agricultural research ini, boleh dibilang menjadi sarapan pagi dan makan siang bahkan makan malamnya news hunters dari berbagai pers yang telah dibekali segudang motive dan kepentingan 'pesan' editor dan pemilik modal.

Lihatlah, sebuah  media elektronik  -  sebut saja milik “A”, menayangkan satu pemberitaan, lalu diikuti media lain milik  “B” dengan penayangan yang mirip mirip walau tak sama. Lalu pemberitaan itu - seiring berputarnya waktu, dibalik dan digiring kepada terbentuknya suatu koalisi conspirative  , dimana object yang diberitakan, sepengetahuan penulis, sama sekali tidak ada hubung - kait dengan apa yang dituduh-sangkakan dalam pemberitaan itu. Tapi memang koalisi conspirative - pada step ini, hanya menghendaki terbentuknya opini publik.

Mereka memang sedang berlomba untuk sampai pada sasaran bidik, selain guna mengejar target tayang untuk merantai pesan konspirativenya agar tak terputus.

Berbagai upaya, usaha dan cara mereka lakukan untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Mulai dengan berbagai alasan yang dilontarkan agar  bisa mewawancara target, dengan senyum merayu, pun juga ada yang dengan sopan santun dan penuh etika mewawancarai target dan sub-targetnya.

Ada pula yang dengan sedikit begging kalau liputan itu semata mata untuk tujuan pendidikan, mereka - finally , berhasil, walau at the end, nyatanya, hasil liputan itu tidak dipublish. Atau sekalipun dipublish, hanya berupa cuplikan- cuplikan untuk memenuhi sajian berita yang diyakini sebagai  based on the plotting scheme.

Insan pers dan atau wartawan, memang dapat dikatakan sebagai kekuatan keempat yang dapat menentukan ke arah mana publik harus memusatkan perhatiannya. Kemana publik harus digiring opininya. Termasuk juga saat mana wartawan berusaha menggiring opini  pemerintah -termasuk penyelenggara dan penegak hukumnya, untuk berfikir tentang adanya keterkaitan berbagai aksi kekerasan dan teror akhir akhir ini yang dilakukan gembong teroris yang tindak tanduknya jelas biadab dengan sebuah organisasi  yang sering dikemukakan dengan sebutan NII.

Maka ketika adanya upaya beberapa pihak yang mengait-ngaitkan kegiatan terorisme dan radikalisme, termasuk berbagai praktik – praktik tak terpuji seperti penipuan,  dengan institusi pendidikan Al-Zaytun dan tokoh sentralnya, Syaykh Panji Gumilang, ini jelas sebagai bentuk skema bersengaja, plotting scheme, untuk mendapatkan sosok kambing hitam.

Penulis mencatat ucapan seorang intelektual yang tak mau disebutkan namanya, yang  dalam sebuah kesempatan mengatakan : “ Syaykh, Anda ini tokoh nasional yang tidak saja milik Al- Zaytun, tapi fakta yang berbicara, Anda adalah milik bangsa,  asset bangsa. Kami butuh seorang seperti Anda. Kita sedang mengalami krisis tokoh. Syaykh....  kami akan selalu dibelakang dan bersama Anda, walau ada pihak-pihak yang ingin menjadikan anda sebagai ABB kedua”,tegasnya.


                                                                           *   *   *


Suatu hari, Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal  Partai Demokrat  melakukan silaturrahim politik dengan bersafari ke pesantren pesantren di Jawa Barat, termasuklah Pesantren Al-Zaytun di Indramayu. Kunjungan itu  mendapat warm welcome dari pimpinannya, Syaykh AS Panji Gumilang dan civitas akademiknya.


Maklum saja, karena keluarga besar institusi ini memang sudah biasa respect menghormati kepada siapapun tamu yang berkunjung. Suasana yang luar biasa hangat serta penuh kekeluargaan dan khidmat tercipta. Konon ketika itu, pemandangan yang biasanya nampak kekuning kuningan berubah total menjadi bak lautan biru. Aroma citra Al-Zaytun yang selama ini dianggap sebagai 'kuning', berubah 'biru'.

TV One mulailah memerankan fungsinya sebagai corong politik kepentingan.

Berawal dari tayangan pemberitaan orang hilang, kemudian hebohnya issu pencucian otak dilakukan oleh wanita bercadar, pembai’atan mahasiswa di Malang, serta kasus terorisme dan bom yang kemudian di kait- kaitkan kepada pesantren Al-Zaytun. Upaya konfirmasi tak pernah dilakukan. Apa ini bukan termasuk all about the project ? An Actual provocation  !
 
Yang tidak kalah pentingnya, ada beberapa pihak dan kalangan yang mungkin ladang usaha dan kepentingan pribadinya khawatir akan terusik, pemikirannyapun mulai dibalut bayangan fantasi delusive, seolah Panji Gumilang sebagai ancaman yang bakal menjadi petaka bagi masa depan, sehingga harus dihakimi sebelum terhakimi.    

Beberapa hari setelah kunjungan Anas -Ibas itu, pendopo dan gedung DPRD Indramayu mendadak berubah bak “pasar kaget”. Orang ramai berbincang perihal kunjungan mereka ke pesantren itu.

TV One, ternyata seperti tak “rela” rival partai politik ownernya melakukan kunjungan silaturrahim politik ke pesantren Al- Zaytun.

Suatu ketika,  beberapa tahun lalu, owner Metro TV Surya Paloh melakukan kunjungan ke Al-Zaytun. Paloh dan rombongannya diterima dengan baik dan meriah.  Kunjungan silaturahim, katanya. Sekembalinya dari lawatan itu, anehnya, tak jarang Metro TV justru menayangkan pemberitaan yang mengkait kaitkan isu NII dengan Al-Zaytun.

Lebih mengherankan lagi, tidak ada upaya melakukan konfirmasi kepada pihak pesantren.  Pertanyaan sederhananya, apakah karena Al-Zaytun dan community nya yang menurut SP merupakan salah satu kekuatan bangsa yang memiliki potensi besar di masa depan bangsa  akan menghambat karier gembong Nasdem itu ? Entahlah.

Kasus yang terjadi di negeri ini, yang paling menjadi hot news hingga sekarang sekalipun, memang adalah aksi terorisme. Ketika belum lama ini tidak kurang sebelas  orang dari kalangan akademisi jebolan salah satu institusi pendidikan negeri terpandang, bahkan tiga diantaranya pernah menempuh pendidikan ditingkat menengah pertama dan menengah atasnya di salah satu institusi pendidikan Islam modern kenamaan di Jawa Timur. Namun tak satupun dari mereka alumni Al-Zaytun.


                                                                 *  *   *



Hari terus berganti, masa menelan waktu. Santri Al- Zaytun tetap dengan berbagai kegiatan pendidikan dan  pembelajaran, baik yang bersifat in-curriculum atau extra kurikuler.




Sebagaimana lazimnya pelajar di tingkat menengah pada umumnya, pelajar di Al-Zaytun - sekolah yang menerapkan system boarding school, menjalankan kegiatan rutin pembelajaran dari pagi mulai jam 7.OO WIB hingga sore jam 15.OO WIB.

Dilanjutkan dengan kegiatan pembelajaran dan pendidikan di luar sekolah yang terpusat di asrama hingga jam 17.45 WIB, seperti shalat berjama’ah, kegiatan olah raga, menghafal mufradat/vocabularies(arabic & english), qira’ah al-qur’an ba’da shalat maghrib dilanjutkan dengan shalat Isya berjama’ah, dan berbagai kegiatan manfaat lainnya.




Bahkan pada hari Kamis malam dan Jum’at malam, pelajar tingkat menengah pertama hingga menengah atas melakukan kegiatan yang disebut dengan muhadlarah, latihan olah pikir dan olah lidah dengan berpidato menggunakan dua bahasa asing; Inggris, Arab dan bahasa nasional Indonesia.

Sesungguhnya ada hal khusus yang menarik yang dilakukan pelajar di Al-Zaytun,  antara lain adalah kelas belajar mengaji dan setoran hafalan Al-Qur’an bagi pelajar kelas tujuh, dari jam 7.00 WIB s.d jam 11.00 WIB dan dilanjutkan kembali dari mulai jam 14.00 WIB s.d 17.00 WIB, dipimpin dan disetorkan langsung kepada pimpinan Al-Zaytun Syaykh Panji Gumilang. Dilanjutkan pada malam harinya  yang dimulai ba'da shalat "Isya. Demikian cuplikan kecil kegiatan yang sudah menjadi rutinitas sehari hari civitas akademika Al-Zaytun dan Syaykh yang karismatik itu.



Last but not least, masihkah tersisa secercah asa, expectasi dan tekad bagi kita pendamba generasi bangsa  -  tua dan muda di republik ini untuk senantiasa berjiwa besar membangun bersama suatu format dan arah masa depan bangsa dan negara menjadi lebih bermartabat dan berkeadilan ? Merubah dan meluruskan cara pandang dan kesadaran masing -masing untuk mewujudkan persatuan dalam visi Indonesia Harus Kuat ? Kuat dalam pertalian, kokoh dalam penghayatan dan pengamalan nilai -nilai fundamental falsafah kebangsaan dan kenegaraannya, sehingga keadilan, kemakmuran, kedamaian dan kesejahteraan serta kehidupan yang rukun dapat benar benar terpenetrasi dalam lubuk sanubari bangsa ini ? Atau masih tega memfitnahnya?

RAHASIA CANDI CETHO & PANATARAN : BUKTI NUSANTARA PUSAT PERADABAN DUNIA (2)

|| || , || Leave a comments

Candi Panataran

Candi Penataran di terletak di lereng barat daya Gunung Kelud, tepatnya di Desa Penataran,Kecamatan Nglegok, Blitar, Jawa Timur; pada ketinggian 450 meter di atas permukaan air laut.Di areal candi ini terdapat banyak relief yang meyimpan misteri bagi yang jeli mencermatinya.
Sangat banyak relief yang menunjukkan bangsa asing yang pernah kita kenal. Sosok-sosok tersebut selalu digambarkan sebagai sosok yang seolah-olah takluk kepada yang berkuasa di Candi Penataran.Sayang sebagian relief sudah rusak, namun untungnya beberapa bagian masih dapat dikenali.

Beberapa relief di Candi Penataran yang menunjukkan bangsa asing yang pernah kita kenali : Pada relief ini terlihat ada tiga orang di belakang orang yang sedang duduk, dan di depannya ada dua orang yang sedang menyembah. Kalau diperhatikan dengan jeli, orang yang paling kiri seperti orang yang berpakaian dari suku bangsa Han [China], lalu di depannya mirip orang yang tergambar di Angkor Vat [Bangsa Campa], dan di depannya lagi mirip orang dari Maya, Inca atau Copan yang berasal dari Amerika Latin. Sedangkan salah satu yang berjongkok di depan [paling kanan] terlihat orang yang bertutup kepala seperti orang Yahudi. Dari gambar ini bisa diperkirakan yang disembah adalah yang duduk dan tiga orang yang berdiri di belakang yang duduk adalah pengawalnya.

            
Dari gambar di bawah,terlihat ada 2 relief yang seperti menggunakan peci.
Pakaian seperti ini bisa kita temui di daerah Turki, India sampai dengan Pakistan.
  





Pada relief di bawah terlihat ada tiga orang yang bukan berpakaian ala kerajaan kita, posis mereka menyembah dan duduk di bawah, sepintas dari cara berpakaiannya mirip orang Mesir.

Siapakah mereka dan sedang apa di sana ?
Setelah dicermati dengan lebih jeli, relief tersebut diperkirakan adalah gambaran dari tiga orang wanita. Perkiraan tentang mereka adalah karena wanita dalam relief tersebut tidak berjanggut.Kalau dianggap wanita Jepang ataupun Korea ada ketidaksamaan yang terletak di model tutup rambut dan apabila dikatakan mirip sorban dari India, maka biasanya yang menggunakan adalah laki-laki yang selalu digambarkan berjenggot.
 
Dari ketiga gambar di atas hampir mirip dengan relief-relief yang ada di candi Penataran. Jadi dapat diperkirakan yang ada di relief itu adalah sosok wanita Mesir.

Pada gambar di bawah terlihat relief seorang putri yang sedang disembah atau mungkin sedang dilayani. Di latar belakang sosok putri tersebut terdapat raut wajah yang agak rusak namun dari tutup kepalanya seperti tutup kepala orang Romawi.
Ada yang mengira itu adalah pohon palem, namun tidak ada pohon palem yang bentuknya melengkung seperti itu. Juga bukan merupakan ornament atau hiasan karena tidak ada ornamen pendukung yang dapat mendefinisikan itu apa.

Namun bila diperhatikan seperti seorang prajurit Romawi yang sedang mengawal seorang putri dengan rambutnya yang agak bergelombang yang merupakan ciri khas dari putri-putri di Romawi.

Beberapa model rambut Romawi yang dapat kita temukan di relief di candi Penataran,terutama di urutan ke-3 dari kiri.


Masalahnya, kenapa dalam sejarah nasional tidak ada penjelasan seberapa luas Negara kita dahulu ?


Pada relief-relief yang berada di tingkat dua bangunan Sitihinggil yang ada di Candi Penataran sangat jelas menunjukkan penaklukan suatu bangsa yang mirip dengan bangsa Indian.
             Leluhur Nusantara berhasil mengambil alih
salah satu kereta berkuda dan memanah 
ke arah lawan.
Leluhur Nusantara berhasil menusuk panglima 
dari bangsa Indian di benua Amerika
 Penambahan pasukan Indian untuk menyerang 
leluhur Nusantara
 Kelihatan bala bantuan Indian terburu-buru 
dan berlari menuju ke medan perang

 Pasukan Indian yang mempunyai kekuatan pasukan 
gajah di sinilah letak ukuran tahunnya




 
Terlihat di relief bahwa daerah yang dikuasai adalah daerah yang
ada pohon kaktusnya. Padahal kaktus diketahui berasal dari benua Amerika.
Dengan bukti relief gajah dan kaktus,maka dapat diperkirakan bahwa bangsa yang ditaklukkan leluhur kita adalah bangsa Mayadari Kerajaan Copan yang sekarang terletak di negara Honduras.

Relief Gajah yang terdapat di Candi Penataran
 
Relief dan gambar Gajah di atas terdapat di daerah Copan - Honduras yang sejenis dengan yang digambarkan leluhur kita di Candi Penataran; menurut para ahli di Amerika, gajah sudah
punah 6500 tahun yang lalu.

Pertanyaannya adalah :
“ Apakah leluhur kita sudah punya peradaban di 6500 tahun yang lalu ? “

 
Relief ini adalah sosok prajurit dari 
 benua Amerika yang terdapat di Candi Penataran.

 
                       Gambar sosok prajurit bangsa Maya dari Kerajaan
Copan yang sekarang terletak di Honduras.


Pada satu sisi di bagian bawah dari Sitihinggil di Candi Penataran terdapat relief raksasa [buto] yang kesamaannya ada pada patung-patung dan topeng Rangda di Bali.

Kesamaan bentuk dan wajah terdapat pula pada patung relief raksasa yang ditemukan di Mexico City, di mana disebutkan oleh para arkeolog bahwa sosok itu merupakan raja Aztec.





 
Pada relief ini kita juga dapat melihat ada sosok yang bertutup kepala tapi tidak menunjukkan berasal dari Indonesia.




Pada jaman berdirinya Candi Penataran dapat disimpulkan bahwa telah ada tiga jenis spesies yang sudah mempunyai peradaban, yaitu : bangsa manusia, bangsa raksasa, dan bangsa manusia kera yang berdiri tegak.

Dalam tata cara kematian, manusia pada jaman dahulu kalau meninggal akan diperabukan,sehingga fosilnya tidak akan ditemukan. Cara perabuan berbeda-beda ritualnya di berbagai wilayah, dan saat ini ragam cara perabuan masih dapat kita temukan di banyak tempat di berbagai belahan Bumi.
Jadi dapat diperkirakan; fosil manusia kera yang berdiri tegak bukanlah bangsa manusia, begitu juga fosil seperti manusia yang bertaring dan bertubuh tinggi juga bukan merupakan ras yang menurunkan manusia di masa sekarang.

Pembuktian awal dari misteri yang ada di Candi Cetho, Candi Sukuh dan Candi Penataran ini sejalan dengan indikasi-indikasi yang dinyatakan oleh Profesor Arysio Nunes dos Santos dari Brazilia yang menyatakan bahwa Atlantis itu benar-benar ada, dan berada di Indonesia.

Profesor Arysio Nunes dos Santos, seorang geolog dan fisikawan nuklir menghabiskan waktu selama 30 tahun untuk membuktikan dari catatan Plato tentang keberadaan peradaban Atlantis,semua hasil penelitian mengarah ke Indonesia, sebagai anak bangsa hanya akan tinggal diamkah kita menyikapi hasil penelitian kelas dunia tersebut ? apalagi bukti-bukti secara empiris yang secara paralel mendukung hasil penelitian tersebut dapat dilihat langsung di Candi Cetho, Candi Sukuh dan Candi Penataran.

Sumber : Yayasan Turangga Seta